DEKRANASDA PUNCAK, MIMIKA- Dewan Kerajinan Nasional Derah (Dekranasda) Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah jadi salah satu peserta dalam ajang pameran UMKM dalam Timika Inside Festival of Art (TIFA) 2026.
Ini pertama kalinya Dekranasda Puncak mengikuti TIFA 2026 sejak digelar 2019 lalu di Timika.
Tak main-main Dekranasda Puncak memberikan kesan tersendiri bagi para pengunjung karena membawa produk UMKM asli dari daerah tersebut.
Pada momen tahunan tersebut, Dekranasda Puncak berhasil mendapat dua piagam penghargaan.
Dua piagam tersebut adalah piagam penghargaan dekorasi terbaik dan diagam penghargaan participant dan partnership.
Berbagai produk kerajinan tangan dan pangan lokal dari kabupaten di Papua Tengah dipamerkan dalam TIFA 2026 yang digelar di halaman Gedung Eme Neme Yauware, Jalan Budi Utomo, Kabupaten Mimika, (2-4/7/2026).
Sekretaris Dekranasda Kabupaten Puncak, Vince Manggo mengatakan, Dekranasda Puncak baru dilantik pada 6 Desember 2025.
“Kami baru berusia tujuh bulan, kami bersyukur bisa hadir di TIFA 2026 untuk memperkenalkan hasil karya mama-mama di Kabupaten Puncak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, produk dipamerkan antara lain tempat tisu, bros, dompet dari kulit kayu, noken, kalung, hingga mahkota khas Papua.
Menurut Vince, salah satu produk paling unik dibuat dari limbah buah merah biasanya dibuang.
Melalui proses pengeringan, pewarnaan dan pengolahan cukup panjang, limbah tersebut diubah menjadi berbagai aksesori bernilai ekonomi.
“Kami ingin menunjukkan bahwa bahan yang dianggap sampah bisa menjadi produk bernilai jual tinggi apabila diolah dengan baik,” katanya.
Selain itu, terdapat pula aksesoris dibuat dari bunga anggrek hutan dan padi belantara tumbuh di kawasan pegunungan Kabupaten Puncak.
Ia mengatakan, proses pembuatan kerajinan tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama karena bahan baku harus dicari langsung di hutan, kemudian dijemur, direbus, dikeringkan kembali, hingga siap dirangkai menjadi produk.
“Kalau bahan anggrek harus melalui beberapa tahapan. Setelah dijemur, direbus, lalu dijemur lagi sehingga hasilnya bisa bertahan sampai puluhan tahun,” jelasnya.
Vince mengungkapkan, setiap daerah di Papua memiliki teknik merajut noken yang berbeda, termasuk Kabupaten Puncak yang memiliki ciri khas tersendiri.
Adapun harga produk dipamerkan bervariasi, mulai dari kalung taring babi Rp300 ribu hingga Rp500 ribu, aksesoris bunga anggrek sekitar Rp50 ribu, dompet dari kulit kayu mencapai Rp4 juta, sementara mahkota cenderawasih dibanderol sekitar Rp5 juta.
Untuk noken, harganya disesuaikan dengan ukuran dan tingkat kesulitan pembuatannya, mulai dari jutaan rupiah hingga sekitar Rp8 juta untuk ukuran besar.
Ia berharap keikutsertaan Dekranasda Kabupaten Puncak dalam TIFA 2026 dapat memperkenalkan kekayaan budaya daerah sekaligus membuka peluang pemasaran bagi hasil karya mama-mama Papua.
“Masih banyak produk yang belum sempat kami tampilkan. Mudah-mudahan pada kegiatan berikutnya kami bisa membawa lebih banyak lagi hasil kerajinan khas Kabupaten Puncak,” pungkasnya.
Ia juga mengucapkan terimkasih kepada TIFA karena telah memberikan dua penghargaan sekaligus.
“Penghargaan ini menjadi semangat kami mama-mama Puncak agar terus melakukan terobosan memperkenalkan budaya khas daerah,” ujarnya. (TC)




